Selasa, Oktober 25, 2005

LAGENDA CINTA


Sisa separuh lebih buah larangan tergenggam erat pada tangan kanannya. Melihat garis-garis mukanya, betapa hebat upaya Lelaki itu untuk menahan agar batin nya tetap tenang dan dingin. Baginya kini tiada lagi keindahan sorgawi ketika menatap wajah sang kekasih yang tunduk di hadapan nya. Air mata duka telah terlanjur mengalir membasahi hingga relung tergelap nuraninya dan membeku di sana.

"Tidakkah terlalu sulit sekiranya aku meminta agar kau segera memberi satu cahaya yang tiada tandingnya, menciptakan kembali yang terbaru Kekasih dengan berlaksa lipat kecantikan daripadamu, kekasih yang wijud daripada kebeningan dan keheningan air mataku ini ! Atas nama tuhan yang maha pengasih, maka jadi ! maka Jadilah!" desah Lelaki itu selirih desiran angin. Sejenak semesta seolah beku oleh kata-kata tersebut.

"Atau kubiarkan saja kematian menghampiriku dengan sendiri dan penuh kesunyian. Aku hanya meminta kebaharuan roh atas ragamu yang terkapar.." kali ini suaranya seperti erangan panjang dan dalam. Bersamaan itu, tubuh Perempuan tersebut luruh dan mencium hujung jari si Lelaki.

"Adam, katakan pada Dinda apa harus dilakukan ! hanya kata-kata maaf membuatkan Dinda kian merasa bersalah, kerana itu tidak akan menebus kealpaan yang telah dinda lakukan…Dinda telah meninggalkan Kanda, Dinda telah menafikan takdir kesetiaan kita …Hukumlah Dinda, hukumlah…” Rintih sang Perempuan di sela isak tangisnya.

"Tidak! Aku tidak berhak menghukummu. Ketika kita mulai berjanji untuk saling mencintai, ertinya kita harus berani disakiti dan menyakiti, sebab pada saat itulah kita berada pada situasi yang paling tepat untuk menyakiti antara satu dengan yang lainnya … hanya keikhlasan dan kepercayaaan semata yang dapat mengubati semua itu" timpal si Lelaki seraya tersenyum. Dari tatapan matanya terpancar luka-luka.

"Ini Adalah kesalahanku jua telah membiarkanmu lena di dalam belantara keindahan hingga kau tersesat"

"Tetapi yang utama dari itu adalah kesalahan Dinda, Dinda tak dapat menjadi kepercayaan Kanda sebagaimana kita inginkan"

"Sesungguhnya aku yakin bahawa telah ditetapkan suatu rahsia ketika Tuhan mengambil satu rusukku untuk menciptakanmu kerana itu tanpamu, aku tidak sempurna manusia"

"Izinkan Dinda menanggung sendiri hukuman dari semua kesalahan ini"

"Tidak! Kau adalah sebagian dari diriku dan aku merupakan keseluruhan atas segenap kehidupanmu ! Kematianmu adalah bererti kematianku juga!

"Dinda hanya tidak ingin melihat Kanda menderita!"

"Menderitalah aku seumur hidup bila membiarkan kau menerima hukuman itu! Kita harus memiliki keyakinan ! kita harus menghadapi bersama, jangan sampai kita terlewat serta kehilangan lagi kerana terlalu asyik dalam kesendirian. Tetap katakan cinta diantara kita, walaupun kita harus mati dan membunuh diri berulang kali!"

"Kanda!Adakah mereka di syurga cemburu melihat Kanda terlalu mencintai Dinda?"

“Tidak, Dinda mereka tidak tidak begitu mereka tiada pernah ada jiwa dan perasaan cemburu ! Hanya dia yang Maha Tahu, betapa kita tidak pernah ingin mensejajarkan diri kita dengan Nya.Saat aku mengatakan cinta padamu, perkara itu tidak pernah aku niatkan untuk menyaingi keesaaNya, kerana aku melihat Tuhan dalam ketulusan cintamu padaku..jadi mencintaimu adalah mencintai Tuhan yang satu."

"Benarkah itu ?"

"Tuhan bukanlah siapa yang hadir dalam fikiran kita, Dia juga bukan apa yang terdapat dalam imaginasi kita. Tuhan bukan satu kemungkinan, Ia Maha Benar … Jadi itu adalah benar belaka."

"Kanda"

"Sesungguhnya kesalahan kita yang paling utama adalah kelahiran kita yang bernama manusia. Sekiranya kita menyebut impian, nescaya kita dapat merasa aman, kita tidak akan mengetahui dan mengalami apa-apa bahkan juga bauan kematian ! Tapi semua telah terjadi seperti sebuah tinta yang terlanjur tumpah dari buah khuldi yang disajikan dihadapan kita" Ucap lelaki itu penuh getar menimang buah berwarna keperakan didalam genggamannya.

"Tuhan terlalu baik pada kita...selalu ada setiap masa. Pertama setelah diajarkanNya padaku tentang kata-kata dan bagaimana harus memaknainya. Penentangan kali ini pun pasti sudah ditetapkan-Nya. Dan dengan dimensi kemerdekaan yang sudah ditakdirkan ini aku memilihmu. Memilihmu untuk menjalani takdir kemanusiaan. Marilah...Marilah kita menjadi hamba yang setia. Kita nikmati misteri cinta ini..." Selesai kata-kata itu, si Lelaki dengan bergerak merasa dirinya memakan buah dalam genggamannya.

"Khuldi ini hanyalah perantara kita...peluk aku, kekasihku. Atas nama cinta dan kasih sayangmu. Matilah kita bersama-sama"

Dua tubuh manusia berpelukan. Semesta raya bergetar seperti ditimpa celaka.

"Wahai!!"

Angin menjadi badai, mengapungkan tubuh mereka diawang-awangan. Segala tumbuhan seketika meranggas. Sungai yang sebelumnya mengalirkan kemurnian madu dan kesucian susu lantas perlahan mengental menjadi darah. Siang dan malam silih berganti pada waktu yang singkat. Semesta ditelan keheningan yang mencekam naluri.

Pelukan kedua insan itu seperti batu, Erat. Mata-mata mereka terpejam. Desah nafas kian memburu keringat yang bertemu keringat menjadi nafsu, mereka terus bergerak, merasuki esensi diri dan masuk menghampiri pintu-pintu indrawi. Bermuara pada otak.

"Kau dengar suara itu dinda?"

"Ya, Kanda suara itu, suara yang dulu kerap kali datang"

"Ah, beginilah rasanya"

"Kanda takut?"

"Tidak. Dan kau ?"

"Tak tahu tapi sedihkah kanda?"

"Tidak"

"Kita kini seperti kapal karam yang hilang dan berisi hawa yang hampa. Akhirnya penantian ini berakhir. Dosa-dosa itu hampir membuat kita jemu… sayang, persiapkanlah dirimu, tidak lama lagi kita segera menuju alam fana dan sekaligus abadi dalam satu legenda.."

"Wahai!"

Senjakala merebak, menumbuh bebunga kiambang kembang dipepohonan. Udara kembali bergerak dalam kesewajaran. Alunan suara semesta merayakan anugerah terdahsyat yang di berikan. Mereka tertunduk, melantunkan puji-pujian, dibentangkan permaidani mengiringi keindahan alam sebagai hamparan dan santapan.

Doa-doa kemaafan tiada henti meluncur dari bibir mereka.tubuh yang mengapung telah menjejak bumi. Perlahan-lahan, sinaran yang membungkus tubuh mereka pudar dalam kesamaran. Membuat degup jantung mereka seirama dengan alam maya dunia.

"Kita tidak mati kali ini, tapi mulai detik dan saat ini pasti kita berdua akan mengalaminya? Kita telah menjadi manusia sebagaimana takdir kita?

Allah Maha Besar!

Satu ledakan dahsyat terjadi . Dua jiwa diceraikan dan terpisahkan jauh sebagai hukuman terberat. Kini tiada lagi batasan antara semesta kecuali kerinduan antara Adam dan Hawa.

Tiada ulasan: