Ahad, Oktober 09, 2005

PUISI MATI



AKHIRNYA, aku terjebak dalam kota ini selama beberapa hari. Suka atau tidak, nikmat atau tidak, mahu atau tidak aku harus melakoninya. Dan, ah, betapa sepinya suasana kota ini, seperti sebelum aku menginjakkan kaki disini setelah terjadi perkabungan panjang yang mendalam. Dan, malam yang jatuh di atas gedung-gedung dingin dari baja, jatuh ke atas tanah kota, merenung akan nasib sendiri yang tersisa. Ya, seperti aku yang juga kesepian. Angin bersiul seadanya, menjilati batin sampai koyak. Dan kerlip bintang yang bersinar hanya sebelah. Aneh, dan menghairankan, tidak seperti malam-malam yang sebelumnya aku temui di kota lain. Ah, mungkin ini hanya perasaanku saja? Sehingga rasa sunyi itu terus mengiba-iba, menyelusup ke bahuku yang telah sejuk kerana belaian angin.Dan, aku bergegas. Mengambil sebuah langkah panjang yang menyambungkan ingatanku. Tetapi, aroma ketakutan itu menjalar, menyusup sampai ke hujung ubun-ubun. Ah, apa yang sedang terjadi sebenarnya? Sedangkan, yang kutemui hanyalah kota yang semakin basah. Dengan ratusan gedung dan monumen yang dipagari dengan sempurna. Gedung-gedung kompleks telah menjelma akuarium raksasa, dimana manusia-manusia berlayar dan mengarungi kehidupan dari pagi hingga malam. Malam ke pagi. Pagi ke malam, demikian terus berulang, aktiviti yang menjemukan. Manusia-manusia yang mirip zombie. Bagai robot. Entahlah, di kota apakah ini sehingga aku terjebak disini? Aku merasa sepi memandangnya. Manusia-manusia bermata kosong dengan tatapan yang sayu terus berkerumun. Dan, ya betapa setiap aku mendongak ke sekitar tubuh, tiada kutemukan sepetak tanahpun yang tersisa. Di setiap pelosok kota, kuhayunkan langkahku bertatih—mencari-cari sepasir tanah yang ditumbuhi beragam macam tanaman. Tapi, suhu-suhu telah mendingin, tiada lagi mampu tercatat pada termometer kota. Dan tiba-tiba aku menjadi seorang yang pembosan. Aku merasa merindukan warna hijau daun, aku rindukan pepohonan sebagai insang nafasku. Dengan langkah longlai, perlahan aku hitung jejakku kembali. Malam kian malam. Tiang dingin semakin kejung.

Sesaat, di sela perjalanan aku berkhayal, alangkah indahnya jika aku bersayap, mirip dengan burung, sudah tentu aku akan melenggang kemana saja. Bebas menari-nari di udara, terbang lebih tinggi dari gedung pencakar langit itu. Tapi, sayang aku bukan burung, sampai bilapun aku tidak punya sayap. Dari kejauhan terdengar lagi ratusan pohon yang tumbang, suaranya memecah langit, berpantulan di udara. Mirip dengan suara ratusan kumbang yang berkeliaran di atas bunga. Berkerumun indah, menciptakan sebuah irama baru. Lebih indah dari lagu-lagu pop yang aku pernah dengar. Suaranya terus menggema…menggema…dan aku bersiul mengikuti nada lagu yang kuingat di otak kepala.

Pelan-pelan kurindukan kehidupan yang lainnya. Melupakan kota sebegini. Sayang, aku memang telah terjebak di sini, setidak-tidaknyanya untuk beberapa lama lagi. Tanpa kuhindari lagi, kuhirup udara malam yang dingin di kota ini. Di tengah gaung suara mesin yang menghambat pepohonan. Aku bernafas dengan udara itu, tanpa terasa di hidungku menitis cecair, mirip dengan warna daun yang telah lama kurindukan. Terus menitis, membanjiri langkahku yang tertatih pada beratnya malam. Berjejeran setiap aku berjalan dan bernafas.

Tolong, aku ingin keluar dari kota ini! Kuaruskan tenaga, menyimpan kekuatan. Barangkali, akan kutemui batas kota itu—batas kota yang jauh dan mengabut di kepekatan malam.

Laluan udara sunyi sepi. Dan lelaki tua dengan jubah hitam tiba-tiba dari arah angin menusuk kedalam jantung. Hempasannya berputar putar-dari dongeng lama mohenjo-daro hingga golgotta. Perlahan-lahan aku tersedar. Sesobek bayangan dari peti mati meringkuk dibawah ranjang. Daun kamboja menyerbu, membentuk formasi barisan tentara di setiap gersang tanah.

Tubuh tidak lagi mengarifi nyanyian serta suara. Dihujung langit hanya mampu menawarkan senja setelah nyanyian terakhir menguap dibibir kota yang sunyi dan diam. Ada yang pulang kepeluk ibu; seperti getar cinta yang semalam mengejari otot-otot pinggulmu sebuah tari. Ada yang berangkat kekampung keabadian; sebatang harapan yang pernah mengajarimu dua ratus empat puluh cara menikmati keresahan. Tapi entahlah, cuaca tetapi tidak beranjak cerah meski kepulangan dan keberangkatan berganti-ganti dilaluan jalan.

"Jangan hubungi aku lagi setelah malam ini." Katamu.

"Aku telah letih mengikuti gerak gerik hurufmu. Lagi pun, kau tidak memberiku apa-apa."

Bulan masih separuh terang. Tetapi aku menghirupnya tanpa sisa. Lalu petak petak ruang menghablur. Sebuah kejadian sejarah menusuk seperti taring harimau di pedalaman maha rimba.

"Tapi aku akan memberimu sebuah syair."

"Aku tak inginkan syairmu. Dan kau juga, apa yang dapat kau nikmati dari syair selain hanya keindahan-keindahan kecil diatas kejadian yang teramat pedih dan pilu?

Aku menghela nafas panjang. Sungai Nil mengalir perlahan melewati batang-batang nadi yang melingkar disekujur konstruksi tubuhku. Sebuah ranjang terbuka. Nampak sepucuk surat putih daripada ibunda bertanda tangan tiga puluh tiga senyuman malaikat.

"Bukan pula ilusi diatas fakta fakta yang ditawarkan puisi kepadamu. Melainkan sudut pandang sebuah tulisan baru untuk membaca semesta peristiwa."

"Di sudut pandang!! Bukankah kau telah memperkatakan cinta sebagai paradigma? Lalu akhirnya seperti yang terjanji daripada paradigma cinta dengan tiang-tiang logikanya teranyam dari huruf rapuh yang kau namakan syair puisi pujangga?.

Tidak! Aku tidak bersyair atas nama sebuah cinta. Aku menghendaki daging. Aku menginginkan tulang. Kalau roh sempat terlepas dalam fikiran kecilku bernama cinta, maka tidak lain adalah refleksi yang bermuara pada sebuah rumah jiwa yang terbangun dari ribuan batu bata. Bukan kata-kata..!"

Sunyi menangkup. Ada desahan didalam diam yang meronta-ronta. Tetapi angin masih berhembus tanpa lidah. Seperti dulu sejak masa purba.

"Selamat tinggal, kawan. Biarkan aku memburu sesuatu yang dinamakan sebagai bahagia. Mengecap hotel demi hotel yang menawarkan spring bed beraroma tubuhku. Dan kau, hahaha...teruslah sibuk menyusun kata kata."

Aku merasakan getaran tertentu. Mungkin harimau telah menancapkan taringnya. Merobek robek sayap embun disepanjang ladang batinku. Didadaku, sebilah keris masih tertacap dengan lelehan darah yang kian hamis. Sepi melengking. Kekosongan melompat-lompat dilubang liang pori-pori. Di hujung malam yang pekat, segumpal bayi terkekeh. Jemarinya bermain- main dengan tali plasenta. Dari pandangan nun jauh sana, hujan melayarkan doa nabi nuh. Perahunya tersekat diatas bongkahan gunung. Melolosi sepasang binatang yang merindu. Empat belas burung nasar dan asap menari. Angin tertawa.

Ya, lemparkan saja kemulutku semua sumpah serapah. Kuning merah caci makimu jika kegelisahan syairku satu dosa. Kau fitnah sia-sia. Telah kubuang jendela dan pintu dari pintu jiwaku. Tiada kelawar yang mengirimkan ketakutan, bahkan keladang. Meski aku tahu, sejak seribu empat ratus dua puluh hari yang lalu telah kau runcingkan ayat-ayat suci jadi belati. Halilintar adalah sahabat baikku berhilir mudik dari pelantar hidupku. Demikian juga sepi. Hah! Biarkan puisiku melekat, menebarkan tanda tanya ke enam-enam arah laut angkasa.

Hohoho... Aku bukan mephisto. Bukan pula dionisi. Jangan panggil aku dengan sesuatu. Sebab sejak kutemukan jeda ruang, tidak berwaktu, tiada kesenangan, kepiluan, kutanggalkan seluruh nama dari kancing kancing bajuku. Sebelum menghirup cahaya matahari, aku telah mengunyah pertentangan demi pertentangan yang dikirimkan angin. Demikian hanya mereka yang telah mengecap balasan dan darah yang mampu bercengkrama dengan debu. Menunjuk jari tangannya ke taman-taman rindu.

Maka lihat! Tiada sendu meskipun sungai telah digali dengan ratusan cangkul mata prasangka. Bahkan ketika kau lemparkan hasutan bahawa aku anak jelmaan setan, desahku cuma bersuara

"Aduhai manisnya kebodohanmu"

Kau hanya peduli tujuan, tujuan dan tujuan yang aku tahu lahir dari rahim ketakutanmu sendiri terhadap masa depan. Lantas bagaimana kau tegaskan mitos peganganmu sendiri tentang kebenaran..?? Hik.. Hik..hiks.. Jadilah pemimpi yang bersarung matahari, kawan. Atau jadilah pendusta yang luar biasa lagi bijaksana.

"Itu bahasa pengkhianat. Tidak bijaksana!"

"Pengkhianat? Lalu pengkhianat apakah mereka yang memotong motong dirinya sendiri untuk sebuah bahagia yang kehilangan syair dan hanya dipenuhi harta?. dengan bijaksana. Wahai iblis! Betapa busuknya aroma kebijaksanaan kau berlidah nafsu dalam setiap hening upacara doa..."

Pukul dua malam. Aku melekat dengan sajak-sajak bidadari yang merindukan petani syurga. Burung-burung berkumpul mewiridkan kematian. Keringatku akan menjadi doa, setelah perjanjian yang memberiku sepasang sayap dari dua puluh tujuh malaikat yang bertahta dilangit. Aku tahu, kebahagiaan hanya bayangan yang berlari sesaat dalam ruang masa. Sekadar menghangatkan tubuhku dari kehampaan yang menunggu. Seperti tiang-tiang lektrik yang dipukul roda. Berpesta darah manusia yang mati mabuk tidak lagi berjiwa. Melayanglah roh dicela bumi.

Jalanraya yang bengkang-bengkok ditengah dada kini telah benar-benar sepi. Hanya sebatang pensel, body lotion aroma tubuh menemaniku dalam beku. Iklan telah merubahnya menjadi mutiara cahaya yang menembakkan imaginasi mereka pada janji-janji lucu tetapi bahagia yang ditipu. Aku menepi. Mengambil arah kiri dari jantung kota. Ribuan buku bertebaran disana sini. Memuntahkan berton-ton huruf di udara. Barisan rumput tercabut dari habitatnya. Kota melolong dalam orkestra melankoliknya. Dan seperti diambang tidur, aku melihat kenisbian lupa daratan kota ibarat dongeng kancil yang licik. Heroisme ironik. Disana, pesta sedang dimulai. Dan amboiii.. Perempuan perempuan mereka pun sibuk menelanjangi diri. Suara mereka seperti lengkingan nyeri dari dunia lain yang dikepung api.

Aku pun semakin menepi bersama bidadari yang bersayap sepi. Kunikmati kasih rabiah, kukucup tangan rumi, kucium jubah al arabi, kuarifi syair gibran, kuraup kaki al qurani. Dan bersama mereka aku menyusuri ladang-ladang pengetahuan. Menziarahi gubuk-gubuk perbincangan. Mendaki tebing-tebing cahaya kenikmatan. Tapi ternyata, tidak satu pun manusia yang kutemui dengan mata terbuka. Aneh, setiap kepala sudah melupakan tanda kematian!

Aku membelok ke kanan. Dengung lagu-lagu suci seperti riuh gergaji di kawasan pemotongan. Sejadah, tasbih, kain putih dan muzik azan pengantar meditasi. Entahlah, asap perang makin kental dalam jelaga. Mungkin langit dan bumi masih yang dulu. Tapi kesetiaan roh telah meninggalkan tubuh pada suatu detik ketika tuhan menjadikan warna kota libido yang bersarang. Kelembutan pun tergolek. Keindahan tersorok. Cahaya kembali ke pangkuan bintang gemintang. Yang terluka bersatu dengan sunyi. Kekosongan menjadi darah, merayap rayap di dinding tubuh. Dan pada saat yang sama kehadiran cinta seperti khabar angin yang melagukan kematian; seperti batas akhir dari kewajaran kasih sayang. Kenapa?

Seperti keindahan fatamorgana, menatap kekosongan. Rindu tiada beralamat. Tiada petunjuk. Dan akhirnya setiap peristiwa menjadi peribadi. Roh bergaul dengan tubuh. Bergomol dengan diri sendiri. Tapi tersisa satu puisi. Bayangkan! Betapa sepinya lalu lintas pertemuan dalam mabuk kekejutan kota yang tercela. Bukan kerana bisu. Tetapi kerana aku rindukan sesuatu yang hilang. Yang aku cari telah tiada. Tapi tidak kemana mana... Begitulah, mereka pun melumat bibirnya sendiri. Menyetubuhi nafsunya sendiri. Dan lihat! Alangkah puasnya mereka akhiri dengan kematian.

Satu hari nanti mereka pasti tahu, sekeping gagasan yang kehilangan wangi dalam gerak sebuah kota; seperti iklan yang dua ratus dua puluh satu kali bertandang dikaca mata. Mengganti warna rambutmu sehingga saatnya aku terbangun dari mimpi ketika semua benda menjadi tumpukan sampah yang membusuk dicelah-celah ingatan. Waktu tidak pernah berhenti. Seperti pencuri yang ditangkap menangis dikuburan. Kota telah kehilangan penghuni. Tiada kegelisahan. Tiada perjalanan. Seluruhnya mati. Meninggalkan bisu dicemari Sunyi!Hujan dan malam masih berkunjung. Baris-baris puisi menggenang dibawah jendela dan akhirnya aku menduga;

"Ini kuburan kota raksasa yang dipenuhi nisan serta berhala.."

Tiada ulasan: