Khamis, Februari 09, 2006

Dan bunga itu akhirnya gugur. Sudah tujuh musim bertahan, tapi sudah masanya. Tujuh musim dia terhempas angin,cuba berdiri tegak dalam ketidakmungkinan. Tapi ketidakmungkinan adalah memang suatu kemustahilan. Bunga itu sudah saatnya gugur. Ada saat di mana bunga itu begitu indah dan mekar. Wanginya begitu semerbak, titisan embun bagaikan mahkota permata padanya. Sebelas setengah musim. Ya, sebelas setengah musim dia bagaikan primadona tanpa tandingan diantara kerimbunan padang rumput kehidupan. Tidak sebentar, namun tidak juga lama. Bunga itu fikir betapa kekuatannya sungguh kuat. Sebelas setengah musim masihlah sesuatu yang awal. Awal dari ratusan musim yang akan menjelang. Tapi bunga itu salah. Bunga tidak sekuat beringin dengan puluhan akar membelit. Dia indah, tapi dia tidak lah kuat. Sama sekali tidak. Angin badai membuktikannya. Tujuh musim dia sudah bertahan. Menutup kuncup, menggulung daun, menunduk pucuk, demi berhemat kekuatan menghadapi sang badai yang tidak kunjung puas menerjang. Dia bertarung begitu gagah perkasanya. Dia yang begitu indah, namun sangatlah lemah. Dan dia kalah. Setelah tujuh musim. Kerana dia hanya lah bunga, bukan beringin yang kekar perkasa memeluk bumi.

Tiada ulasan: